Dampak Sunat Bagi Perempuan

Dampak Sunat Bagi Perempuan - Sunat perempuan di Indonesia tetap kontroversial. Namun, pada 2010 Kementerian Kesehatan mengeluarkan Permenkes yang disebut sunat perempuan adalah tindakan menggaruk kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa merusak klitoris. Nah, apakah pratik ini berdampak pada kesehatan?

"Jika penyunatan atau khitan wanita dilakukan dengan cara memotong membran di atas klitoris karena bukan saran agama dan budaya, menurut saya itu masih sah," kata dokter seks Dr. Andri Wananda MS, dalam percakapan dengan detikHealth, Rabu (26/6). / 2013).
Dampak Khitan Untuk Perempuan

Dr Andri menjelaskan dalam melakukan sunat juga harus berhati-hati. Padahal, jika petugas kesehatan yang tidak kompeten justru bisa merusak klitoris dan membuat jaringan ikat, jaringan yang muncul jika ada luka. Nah, jika ini terjadi maka bisa membuat klitoris jadi tidak peka terhadap rangsangan.

"Sementara jika sunat wanita disebut ablasi klitoris, kita memotong klitoris dan bibir bawah atau bibir genital, yang menurut saya perlu ditantang," kata Dr. Andrew.

Fungsi Kliroris penting untuk stimulasi seksual wanita, sedangkan bibir bawah ada kelenjar yang mengeluarkan cairan pelumas vagina. Nah, jika ini dieliminasi, tentu saja, wanita tidak bisa menikmati seks.

"Apalagi kalau vagina kering saat bercinta, nanti nanti sakit," kata Andri.

"Tidak ada risiko infeksi lebih lanjut dengan melukai klitoris. Klitorisnya adalah tidak ada yang mengatakan wanita tentang penis," kata seorang profesor di Universitas Taruma di negara ini.

Dr. Andri menjelaskan, di Afrika biasanya untuk menakut-nakuti anak perempuan untuk mendapatkan sunat biasanya dikatakan jika klitoris tidak dipotong, bisa jadi menjadi penis. Bahkan ada sunat yang menimbulkan lebih banyak jaringan vagina.

"Ini lebih berisiko dan berbahaya bagi wanita," kata dokter dengan kacamata.

Sementara itu Priya Subroto, peneliti Indonesian Family Planning Association (IPPA) mengatakan bahwa jika penyunatan pada wanita dilakukan dengan memotong klitoris, selain menyebabkan efek kesehatan juga menimbulkan dampak emosional. Diberitahu di klitoris ada saraf dan pembuluh darah, sehingga potongan fisik bisa menyebabkan perdarahan.

"Sedangkan untuk psikis karena rangsangannya, maka bisa dibayangkan jika seorang wanita kehilangan pusat kegembiraan, ini bisa menjadi nyawa yang menderita baginya. Dan inilah salah satu efek jangka panjangnya," kata Priya.

"Bahkan dibahas dalam buku tentang varian vagina jika bentuknya jelek tidak ada petugas medis yang melihat cara ini sebagai bagian dari estetika yang akan terjadi, tapi tidak bagus untuk dilakukan," tambahnya.


Pendapat yang berkembang tentang sunat perempuan adalah untuk mengendalikan hasrat seksual wanita. Menurut Priya, jika disunat maka wanita tersebut tidak bisa merasakajn apapun.

"Ada beberapa kepuasan yang bisa dikatakan kurang dari 9 menit, bahkan jika lebih dari 9 menit bisa menjadi siksaan bagi wanita. Bayangkan jika dia tidak memiliki klitoris," kata Priya.

Jika seorang wanita tidak memiliki klitoris maka hanya mempercepat hubungan. "Orgasme juga bisa lebih cepat jika lawannya bisa lepas kendali, orang tidak sampai ke titik orgasme," tambahnya.

"Jelas ini kontroversial, dan siapa yang membuat pernyataan itu benar, jadi dia tidak mengerti bagaimana anatomi wanita," Priya menambahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara merawat baju pesta anak perempuan

Manfaat petai bagi kesehatan

Wow! Ketahui Karakter Orang dengan Mudah dengan 6 Cara Ini